Popular Posts

Showing posts with label Holocaust. Show all posts
Showing posts with label Holocaust. Show all posts

Holocaust Yang Sebenarnya !

Saturday, December 10, 2011


Ahli sejarah Inggris, David Irving; peneliti Prancis, Robert Faurisson; ilmuwan Jerman, Fredrick Toeben; juga yang lain pernah merasakan kuatnya pemimpin Eropa dalam membangun mitos holocaust. Sebagian ahli ini terpaksa mendekam beberapa saat di penjara karena penolakannya terhadap keberadaan sejarah holocaust.

Ya, Holocaust merupakan sebuah hal yang menjadi perdebatan apakah ini mitos atau hanya karangan Yahudi yang ingin mendapat simpati Barat agar mendapat Tanah di Palestina. Karena jika ini benar terjadi, ternyata mereka (Israel) sedang mempraktekkan kembali kisah Holocaust kepada rakyat Palestina dimana yang terakhir dengan mengisolasi Gaza dan melarang bantuan asing datang?.

Membahas tentang Holocaust merupakan sebuah hal yang menarik. Karena darimana Yahudi mendapatkan ide tentang kisah ini?. Mari kita simak apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Dalam Talmud (Gittin 57b) Yahudi mengklaim bahwa 4 milyar orang Yahudi dibunuh oleh orang Romawi di kota Bethar. Dalam Gittin 58a Yahudi mengklaim 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus gulungan dan dibakar hidup-hidup oleh Romawi. Demografi kuno menunjukkan bahwa tidak ada 16 juta orang Yahudi di seluruh dunia saat itu apalagi 4 milyar Yahudi.

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994, perwira tentara Israel Baruch Goldstein, seorang Khazar ortodoks dari Brooklyn membantai 40 warga Palestina termasuk anak-anak padahal mereka sedang berlutut dalam do’a di Masjid. Goldstein adalah seorang murid dari Rabi Kahane yang telah menyatakan pandangannya tentang orang Arab sebagai “Anjing” (CF CBS 60 Minutes “Kahane”).

Prof. Ehud Sprinzak  dari Universitas Yerusalem menjelaskan filosofi  Kahane and Goldstein sebagai berikut :  “Mereka percaya itu adalah kehendak Allah bahwa Yahudi harus melakukan kekeraan terhadap Goyim (Non Yahudi), sebuah terminologi Yahudi terhadap non Yahudi (NY Daily News, Feb. 26, 1994, p. 5). Apalagi setelah Rabi Yitzhak Ginsburg mengatakan : “Darah Yahudi dan non Yahudi tidaklah sama (NY Times, June 6, 1989, p.5). Rabi Yaacov Perrin mengatakan :”Satu juta orang Arab tidak lebih hanya seujung kuku Yahudi” (NY Daily News, Feb. 28, 1994, p.6).

Setiap tahun Israel ambil bagian dalam Ziarah nasional ke kuburan Simon ben Yohai, untuk menghormati Rabi ini yang menganjurkan pemusnahan non Yahudi (Jewish Press of June 9, 1989, p. 56B).

Jadi apakah benar Holocaust itu benar-benar dilakukan Nazi Hitler?. Atau kah kisah ini sebenarnya kisah kekejaman Yahudi yang tersembunyi dan digunakan untuk mendiskriditkan bangsa lain?.
Read Post | comments

Konspirasi Penyelamatan Ribuan Yahudi Oleh "Paus Hitler"

Wednesday, November 16, 2011

NEW YORK – Paus Pius XII, paus kontroversial dalam era Perang Dunia II mungkin saja telah menyelamatnya ribuan orang Yahudi dengan diam-diam mengamankan visa mereka sehingga mereka bisa lolos dari Nazi Jerman, kata seorang sejarawan.

Paus Pius XII, yang dijuluki "Pausnya Hitler" oleh Yahudi karena diam saja pada saat terjadi Holocaust. Banyak yang mengatur eksodus sekitar 200.000 Yahudi dari Jerman hanya tiga minggu setelah "Kristallnacht," ketika – menurut Yahudi – "ribuan" orang Yahudi dikirimkan ke kamp konsentrasi.

Klaim tersebut dikeluarkan oleh Dr. Michael Hesemann, seorang sejarawan Jerman yang melakukan penelitian di Vatikan untuk Pave the Way Foundation, sebuah kelompok antar-agama yang berbasis di AS.

Ia mengatakan bahwa Kardinal Eugenio Pacelli – yang nantinya dikenal sebagai Pius XII – menulis surat kepada para uskup agung Katolik di seluruh dunia dan mendesak mereka mengajukan visa untuk pada "Katolik non-Arya" dan Yahudi yang memeluk Kristen yang ingin meninggalkan Jerman.

Elliott Hershberg, ketua Pave the Way Foundation, mengatakan: "Semua bukti yang kami temukan sejauh ini mengindikasikan bahwa persepsi negatif yang diarahkan kepada Paus Pius XII tidaklah benar."

Pius XII dikritik karena dianggap tidak secara eksplisit mengecam Holocaust, rezim Nazi, atau mengucilkan Hitler.

Dr. Hesemann mengatakan bukti tambahan itu mengindikasikan bahwa visa tersebut akan diberikan kepada Yahudi pada umumnya yang putus asa menghindari kejaran Nazi.

"Fakta bahwa surat ini membicarakan mengenai Yahudi yang telah berpindah keyakinan dan Katolik non-Arya tampaknya memang hanya selubung belaka," kata Dr. Hesemann.

"Pacelli harus memastikan bahwa mereka tidak menyalahgunakannya untuk propaganda, sehingga mereka bisa mengklaim bahwa gereja adalah sekutu Yahudi."

Imbauan dari Kardinal Pacelli tertanggal 30 November 1938, 20 hari setelah "Kristallnacht".

Kardinal Pacelli bisa mengajukan visa tersebut karena adanya konkordat yang ia tandatangani pada 1933 dengan Nazi yang secara spesifik berisi perlindungan terhadap Yahudi yang berpindah keyakinan menjadi Kristen.

Pada bulan Desember, Paus Benediktus XVI menempatkan Pius satu langkah lebih dekat dengan gelar santo saat ia menyebut Pius orang yang patut dimuliakan, yang berarti gereja yakin Pius menjalani kehidupan heroik yang penuh kebenaran. Diperlukan dua keajaiban untuk melakukan kanonisasi dan menahbiskan Pius sebagai santo, dan Vatikan tengah menyelidiki salah satu yang tidak dapat dipahami.

Sejumlah kelompok Yahudi ingin agar proses tersebut dibekukan hingga Vatikan siap membongkar arsip rahasianya pada 2014 mendatang.

Sir Martin Gilbert, seorang sejarawan Inggris dan seorang pakar Holocaust terkemuka dunia mengatakan bahwa Paus Pius XII seharusnya dianggap sebagai "orang kafir non-Yahudi yang berbudi" oleh Yad Vashem, otoritas Israel untuk mengenang Holocaust.

Matteo Luigi Napolitano, profesor ilmu politik di Universitas Urbino Italia, mengatakan kepada situs Katolik, Zenit, bahwa salah satu surat tertanggal 9 Januari 1939 tersebut bahkan lebih eksplisit.

Surat tersebut juga dikirimkan ke lebih dari 60 prelatur dan instruksinya, yang dituliskan dalam bahasa Latin berbunyi: "Jangan pernah meragukan niatan Tahta Suci dan pemikiran-pemikiran Eugenio Pacelli," kata sang cendekiawan.

Surat tersebut, katanya, berisi: "Jangan hanya terlibat dalam penyelamatan orang Yahudi saja, tapi juga sinagog, pusat-pusat budaya, dan segala hal yang ada hubungannya dengan keyakinan mereka: gulungan Taurat, perpustakaan, pusat budaya dan lain-lain."

Menurut yayasan itu, penjelasan ini amat penting, karena banyak sejarawan yang hanya mengakui upaya Paus Pius XII menyelamatkan Yahudi yang berpindah keyakinan, namun bukti yang ada agaknya menunjukkan hal yang tidak seperti itu.

Yayasan itu menambahkan, "Karena ada banyak pengkritik paus ini yang belum menerima ancaman Nazi yang terbukti terhadap negara Vatikan dan juga nyawa Paus Pius XII secara langsung, mereka agaknya tidak paham bahwa berbohong itu ada perlunya untuk mengirimkan pesan dan memberikan petunjuk verbal."

"Istilah Katolik non-Arya, non-Arya, dan Yahudi Katolik semuanya bermakna Yahudi. Jika dokumen-dokumen yang ada terbongkar, kebohongan ini akan memantik kewaspadaan karena konkordat yang ditandatangani pada 1933 secara spesifik memaparkan mengenai perlindungan terhadap Yahudi yang memeluk Kristen," tambah yayasan tersebut.

Ronald Rychlak, penulis buku "Hitler, Perang, dan Paus" mengakui bahwa penemuan yayasan tersebut "adalah pembenaran lain tentang kebaikan Paus Pius XII dan Gereja Katolik."
Read Post | comments

Holocoust Bagian dari Ilusi Nazi?

Tuesday, November 15, 2011

Holocaust merupakan satu ilusi. Pernahkah kita sadar bahwa ada juga di kalangan Yahudi hari ini yang menentang pendirian negara Zionis Israel? Golongan yang menentang itu adalah Yahudi Ortodox yaitu generasi dari perkumpulan Yahudi yang dibunuh oleh Nazi semasa WW2. Yahudi Ortodox tidak pernah bersetuju dengan gagasan Zionis dan lebih menghargai keamanan. Yahudi Ortodox ini juga pernah disampaikan dakyah Zionis bagi merealisasikan negara Yahudi Israel melalui agenda Nazi, mereka menolak, lalu dibunuh. 

Mereka dibunuh untuk mengngelabui dunia dan supaya dunia merestui pendirian negara Israel yang wujud hari ini. Manakala Yahudi yang berfahaman Zionis dan Mason pun dibenarkan hidup untuk merealisasikan pendirian Negara Israel. Di mana Yahudi Ortodox yang ada hari ini, mereka tidak tinggal di Israel tetapi berada di Amerika dan Eropah, mereka hidup dalam kelompok sendiri dan menyisihkan diri dari kemajuan yang dikecapi dunia hari ini, mereka sama seperti golongan Amish. Tetapi tidak bermakna mereka tidak terlibat langsung dalam agenda Illuminati, mereka dilibatkan sama dan kita umat Islam juga turut dilibatkan sama tanpa kita sedari.
Atau mungkin saja Holocaust tidak pernah terjadi dalam lipatan sejarah dunia dan ia hanya diwujudkan melalui propaganda yang dibawa penulis-penulis sejarah dunia di Amerika. Jika Holocaust wujud melalui propaganda, ia tetap juga ilusi. Tujuannya juga tetap sama, untuk menjadi alasan pendirian negara Yahudi yang bebas, berdaulat dan bermaruah Yaitu Israel.
Read Post | comments

Perdebatan Holocaust

Banyak perdebatan tentang Holocaust, dan rata2 semua setuju bahwa Holocaust hanyalah mitos yang dihembuskan Zionis sebagai pembenaran rasa kasihan Dunia terhadap kaum Yahudi selama WW II. Dari sekian banyak sumber, mungkin sumber ini yang paling ringkas membahasnya. 

Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cedera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar jenazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Perancis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.
Read Post | comments

Holocaust, Kebohongan Terbesar Yang Dijalan Kan Yahudi !

Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan.

Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah.

Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun. (lihat situsnya di www.alfredlilienthal.com :))

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.
Read Post | comments
 
© Copyright Panitia Hari Kiamat 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.