Popular Posts

Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label Tarbiyah. Show all posts

Misteri Azab Di Pagi Hari ! Renungan

Wednesday, November 23, 2011

Kepada…Setiap hamba yang terbangun di saat sebagian besar manusia sedang terbuai dalam tidur lelapnya. Sementara ia lebih memilih bertemu Rabb (Tuhan)-Nya.

Kepada…Setiap bapak yang memulai harinya dengan sholat subuh berjamaah, kemudian bersemangat mencari rizki Alloh di muka bumi.

Kepada…Setiap ibu yang ber-kholwat dengan Alloh sebelum ia menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.

Kepada…Setiap pemuda yang merindukan adzan subuh dengan senantiasa menyambut kehadirannya.


Sungguh ada yang sangat menarik ketika memperhatikan pergantian siang dan malam. Diantara pergantian waktu saat mentari hendak beranjak, manusiapun turut ambil bagian dengan caranya masing-masing. Ada yang tidak peduli, ada yang penuh dengan kepedulian, tetapi ada yang salah dalam mengambil sikap.

Alloh telah menciptakan waktu pagi dengan penuh hikmah di dalamnya. Pagi merupakan bentuk dari pergantian malam, dan kejadian demi kejadian yang mengiringinya juga semakin menakjubkan. Sungguh, di dalamnya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Alloh berfirman :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan ber-gantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (Qs. Ali ‘Imron : 190)

Apabila kita perhatikan, banyak peristiwa penting yang terjadi di waktu pagi. Dimana sebagian besar manusia masih terlelap dalam tidurnya yang panjang. Misteri pagi hari memendam berjuta kejadian -mungkin juga lebih- , yang dapat mengingatkan kita dan mengambil hikmah di dalamnya.

MUSIBAH ADZAB DI PAGI HARI

Adzab Bani Rasib (Kaum Nabi Nuh u)

Adzab yang menimpa kaum Nabi Nuh u mulai terjadi di pagi hari. Alloh tidak menyisakan seorang kafirpun di muka bumi setelah adzab itu terjadi. Seluruh pemeluk agama sepakat, mengakui adanya peristiwa taufan dan badai. Dimana Alloh membuka pintu-pintu langit, sehingga terjadilah hujan yang sangat deras, dan juga memancarkan air dari seluruh mata air di setiap penjuru bumi.

Adzab Kaum ‘Aad (Kaum Nabi Hud u)

Alloh menurunkan adzab-Nya yang berupa awan hitam yang hadir ke perkampungan Kaum ‘Aad pada waktu subuh. Awan yang berisi angin dingin yang bertiup kencang dan mematikan. Angin itu bertiup selama 8 hari 7 malam, hingga tidak ada seorang kafirpun yang tersisa. Bahkan angin tersebut mengejar mereka sampai ke celah-celah gunung dan gua. Tempat tinggal dan benteng-benteng yang dibanggakan Kaum ‘Aad juga dihancurkan.

Adzab Kaum Tsamud (Kaum Nabi Sholih u)

Nabi Sholih berkata kepada kaum kafir yang memusuhinya, “Bersenang-senanglah kalian selama 3 hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Artinya, Kaum Tsamud diberi tenggang waktu 3 hari untuk menikmati kehidupan dan kekafiran mereka. Pada hari yang ditentukan Alloh akan mendatang-kan adzab-Nya.

Pada pagi hari yang ditentukan, yaitu hari Kamis, wajah Kaum Tsamud berubah berwarna kuning. Pagi hari yang ke 2 (Jum’at), wajah mereka berubah menjadi merah. Pagi hari ke 3 (Sabtu), wajah mereka berubah menghitam. Dan pada saat mulai terbit hari Ahad, muncullah suara keras yang menguntur dari langit dan gempa yang sangat dasyat dari bumi. Nyawa orang-orang kafir dari Kaum Tsamud melayang dalam satu waktu.

Adzab Kaum Sadum / Soddom (Kaum Nabi Luth u)

Pada waktu subuh, Alloh U menjadikan Negeri Sadum terbalik. Qotadah dan ulama-ulama lain mengatakan bahwa pada pagi itu Jibril mengembangkan sayapnya. Dan dengan sayap itu Jibril mengumpulkan segala yang ada di bumi. Jibril merengkuh semuanya ke dalam sayapnya. Selanjutnya Jibril membawanya ke langit, sehingga penduduk langit mendengar suara manusia dan suara anjing. Setelah itu, Jibril memuntahkannya ke bumi secara terbalik. Lalu mereka dilempari batu dengan sangat keras. Ibnu Katsir menjelaskan, di setiap batu yang menyerang Kaum Sadum, telah ditulis nama-nama orang yang akan ditimpanya.

Adzab Pasukan Raja Namrudz (Kaum Nabi Ibrahim u)

Zaid bin Aslam mengatakan, bahwa Alloh U mengirim malaikat kepada raja yang sombong itu agar beriman kepada Alloh U, tapi ia menolaknya. Lalu malaikat mengajak untuk kedua kalinya, hingga sampai ketiga kalinya, tetapi ia terus menolak. Kemudian malaikat berkata, “Kumpulkan semua yang dapat kamu kumpulkan, dan aku akan mengumpulkan bala tentaraku.”

Raja Namrudz segera mengumpulkan seluruh bala tentaranya pada saat matahari terbit. Kemudian Alloh U mengirimkan pasukan lalat yang tidak terlihat oleh mereka. Lalu lalat-lalat itu memakan daging dan darah mereka, dan hanya menyisakan tulang belulang saja. Kemudian salah satu lalat, masuk ke dalam hidung Namrudz dan menetap di dalamnya selama 400 tahun. Dengan lalat itulah Alloh U mengadzab Namrudz. Dan Namrudz selalu memukuli kepalanya dengan besi selama itu, sehingga Alloh U membina-sakannya.

Kalau kita perhatikan berbagai adzab yang menimpa beberapa kaum kafir dan durhaka di masa-masa Nabi-Nabi terdahulu, terjadi pada waktu pagi. Bukankah Alloh U mampu menghancurkan mereka kapan saja ? Apakah pagi hari memiliki makna yang begitu penting ?

Kita renungkan sejenak….!

Tsunami Aceh

“Serambi Makkah”, 25 Desember 2004, tepat pa-da hari natal sekaligus malam Minggu. Sebagian mu-da mudi keluar hanya untuk bersenang-senang. Se-bagian lagi bergabung dengan turis-turis asing untuk pesta pora. Malam itu “Serambi Makkah” telah hilang namanya. Samudra Hindia terbelah, dengan melemparkan gelombang warna hitam -karena tercampur batu dan pasir- setinggi tiga kali pohon kelapa. Subhanalloh, fenomena alam yang sangat mengerikan.

Selain itu pula, tsunami juga diiringi dengan gempa yang sangat dasyat. Gempa ini merupakan gempa terdasyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Tercatat korban di Indonesia yang meninggal sekitar 126.915 jiwa, hilang mencapai 37.063 jiwa dan kehilangan tempat tinggal sebanyak 517.000 jiwa.

Gempa Yogyakarta

Pada hari Sabtu, di pagi hari 27 Mei 2005, tepat pukul 05.53 WIB, Yogyakarta digemparkan dengan gempa berkekuatan 5,9 skala richter. Tercatat korban meninggal 200 jiwa.

Ternyata bukan gunung Merapi yang meletus. Dimana selama satu bulan sebelum gempa terjadi, gunung Merapi memamerkan keganasannya. Bukan gunung Merapi yang meletus, tetapi Alloh U menghendaki cara lain untuk menegur penduduk Yogya dan Jawa Tengah yang memang lekat dengan tradisi-tradisi kejawen (budaya Jawa) yang berbau syirik dan khurafat.

Longsor di Banjarnegara

Alloh U menghendaki bencana terjadi di pagi buta, tepatnya pukul 03.00 WIB, hari Rabu 4 Januari 2006. Tanah longsor itu menyapa dukuh Gunungraja, desa Sijeruk, kecamatan Banjarmangu, kabupaten Banjarnegara.

Sekitar 102 rumah tertimbun tanah dan sekitar 200 warga terkubur hidup-hidup. Tanah longsor ini ter-jadi tanpa tanda-tanda sebelumnya. Dan bukan akibat penebangan hutan atau kerusakan alam. Saat itu, Alloh U memperlihatkan kebesaran-Nya sebagai tanda bagi orang yang berfikir.

Sekiranya musibah-musibah di atas hanya seba-gian peristiwa atau musibah besar bagi manusia dan mahluk lainnya, dan cukup untuk menjelaskan bagaimana Alloh U menghendakinya di pagi hari. Ba-yangkan, apa jadinya jika musibah itu menghampiri kita di pagi hari, namun kita masih asyik tertidur dan melewatkan sholat Shubuh ? Subhanallah……….!

Hikmah di balik musibah

Pertama ; – musibah bermakna adzab.

Hal ini berlaku bagi orang-orang kafir dan setiap orang yang dzolim kepada-Nya. Ahad pagi, 26 Desember 2004, dalam sekejap

Ke dua ; – musibah bermakna teguran.

Hal ini berlaku bagi kaum Muslimin yang masih suka memperturutkan hawa nafsu. Terkadang mere-ka taat, tetapi di waktu yang lain mereka bermaksiat kepada Alloh U.

Ke tiga ; – musibah bermakna ujian.

Hal ini berlaku bagi orang-orang yang beriman dengan sungguh-sungguh dan penuh kemantapan.

Adzab dan musibah yang Alloh U berikan kepada kaum-kaum terdahulu dan sekarang, merupakan pelajaran bagi generasi yang hidup sesudahnya. Peristiwa-peristiwa itu ditetapkan Alloh U untuk mengingatkan diri kita, agar senantiasa beriman kepada Alloh U dengan sebenar-benar iman.

Menurut Raghib As Sirjani, bahwa waktu pagi, terutama waktu subuh, merupakan waktu perubahan. Di waktu inilah, saat yang pertama keadilan muncul setelah kedzoliman. Saat yang pertama datang keba-ikan datang setelah kerusakan.

Waktu pagi adalah saat perubahan, pengokohan, kemuliaan dan diangkatnya derajat orang-orang yang beriman. Alloh telah membinasakan kaum yang durhaka dan mengokohkan orang yang beriman ke-pada-Nya. Adzab adalah pembatas yang jelas, dimana Alloh U membatasi kehidupan jahiliah dengan kehidupan orang-orang yang bertaqwa.

Di antara pemuliaan Alloh terhadap hamba-hamba-Nya (yang bertaqwa) di pagi hari.

Perang Badar

Perang Badar adalah perang pertama sekaligus perang penentu bagi gerak dakwah Rosululloh r. Jika dalam perang itu Kaum Muslimin dapat memenang-kannya, maka dakwah Islam akan berlanjut, tetapi jika mengalami kekalahan maka penegakan kalimatulloh akan semakin sulit. Perang Badar terjadi dimulai tepat di pagi hari pada 17 Ramadhan 2 H.

Kekuatan Kaum Muslimin terdiri dari 313 personil, yang dipimpin langsung oleh Rosululloh r, dengan 2 orang penunggang kuda dan 70 ekor unta, yang tiap ekor unta dinaiki dua sampai tiga orang. Sedangkan kekuatan kafirin terdiri 1200 personil, yang dipimpin oleh Abu Jahal, dengan 100 penunggang kuda dan 600 pasukan berbaju besi.

Perang Badar telah melukiskan kisah tersendiri dalam sejarah Islam, dengan kemenangan gemilang Kaum Muslimin.

Perang Khandaq / Ahzab

Perang ini merupakan persekongkolan dari orang-orang Yahudi dari Bani Nadzir dan kabilah-kabilah kafir Quroisy serta sekutu-sekutunya. Dengan kekua-tan 10 ribu personil, pasukan koalisi tersebut menge-pung Madinah di pagi hari. Sementara kekuatan Kaum Muslimin di pagi itu sekitar 3000 personil.

Perang ini terjadi pada bulan Syawal hingga Dzulqo’dah. Perang Khandaq adalah perang yang cu-kup mencekam di Madinah, karena dikepung oleh pa-sukan yang jumlahnya lebih besar dari penduduk madinah, termasuk wanita dan anak-anak.

Pasukan kafir menyerang Madinah tepat di pagi hari, apa jadinya jika di pagi itu tidak ada persiapan apa-apa dari Kaum Muslimin.

Fathul Makkah

Pada waktu dluha, Selasa 17 Ramadhan 8 H, Ro-sululloh beserta shahabatnya sebanyak 10 ribu or-rang memasuki Masjidil Harom – Makkah, dalam rangka memerangi orang-orang kafir. Tidak ada perlawanan sama sekali dari orang-orang kafir. Mere-ka berlari ketakutan dan menutup rapat pintu rumah mereka.

Penaklukan Makkah merupakan keberhasilan perjuangan Rosululloh r, sekaligus tonggak kejaya-an Islam.

Pembaiatan Amirul Mukminin Umar bin Khottob t

Az Zuhri berkata, “Umar menjadi kholifah di hari meninggalnya Abu Bakar, yaitu Selasa tanggal 22 Jumadil Akhir.” Umar bin Khottob t di baiat menjadi kholifah setelah shalat subuh di Masjid Nabawi.

Kesyahidan Umar dan Ali

Umar bin Khottob t syahid pada bulan Dzulhijjah 23 H, ketika akan mengimami sholat subuh. Umar dibunuh dengan beberapa tusukan pisau oleh Abu Lu’lu’ah, seseorang yang beragama Majusi.

Ali bin Abi Tholib t syahid pada bulan Ramadhan 40 H. Kala itu menjelang subuh, Ibnu Nabbah – seorang mu’adzin datang mengetuk pintu rumahnya. Dia berkata, “Sholat, sholat.” Ketika Ali t keluar dari rumahnya, Ibnu Muljam yang sudah merencanakan pembunuhan Ali t, segera menyerang dengan menyabetkan pedang ke wajah Ali t. Pedang itu mengenai wajah dan kening hingga ke otak beliau. Dan Ibnu Muljam berhasil dikepung dan dibunuh Kaum Muslimin.

Nabi Isa turun ke dunia

Isa bin Maryam u turun ke bumi di menara putih. Pada waktu akan dilaksanakan sholat subuh di suatu masjid, di Damaskus – Syiria.

Ibnu Katsir berkata, “Terdapat hadits-hadits yang muttawatir bahwa Rosululloh r memberitahukan turunnya Isa sebelum kiamat sebagai pemimpin yang adil.”

Subhanalloh, betapa Alloh memuliakan dan memberi keistimewaan di waktu pagi. Tak ada waktu lain yang mendapat perhatian lebih dari-Nya, sebagaimana Dia menjadikan waktu pagi sebagai waktu yang penuh dengan keutamaan. Sebagaimana Alloh U berfirman

- “Demi fajar” (Qs. Al Fajr : 1)

- “Dan malam ketika berlalu. Dan bila subuh mulai te-rang” (Qs. Al Mudatsir : 33-34)

- “Demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya. Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (Qs. At Takwir : 17-18)

- “Demi waktu dluha” (Qs. Adl Dluha : 1)

Berbagai amalan yang penuh barokah di pagi hari :

- Sholat malam (qiyamul lail), terutama di 1/3 malam.

“Hai, orang yang berselimut (Muhammad), bangun-lah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (dari-nya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seper-dua itu sedikit.” (Qs. Al Muzzamil : 1-3)

- Do’a dan dzikrulloh.

“Robb (Tuhan) kita Tabaaroka wa Ta’alaa turun pada setiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal 1/3 akhir, lalu berfirman,”Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, barangsiapa yang meminta kepada-ku maka akan Aku beri, dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni dia.” (HR. Bukhori – Muslim)

- Membaca Al Qur’an dan mempelajarinya.

“Sesungguhnya bacaan Qur’an di akhir malam ada-lah disaksikan.” (HR. Muslim – Ahmad)

- Istighfar dan taubat.

“Dan memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar” (Qs. Adz Dzariyat : 18)

- Sholat sunnah fajar

“2 rokaat fajar (sebelum subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

- Sholat subuh berjama’ah.

“Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat isya’ dan sholat subuh. Sekira-nya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak.”

(HR. Bukhori – Muslim)

- Dzikir pagi setelah subuh.

- Sholat dluha

“Barangsiapa yang subuh berjamaah, kemudian du-duk berdzikir kepada Alloh Ta’alaa hingga terbitnya matahari, dilanjutkan dengan sholat 2 rokaat, itu sa-ma dengan pahala haji dan umroh yang sempurna.” (HR. At Tirmidzi)

- Beramal sholih dalam setiap kesempatan.

Alloh U telah memberi gambaran tentang kehancuran suatu kaum dengan adzab-Nya di waktu pagi. Maka hendaklah kita memperbanyak taubat dan ketaqwaan kepada Alloh U. Agar Dia menjadikan kita sebagai bagian dari orang-orang yang beriman, dan menjauhkan kita dari adzab-Nya.

Sungguh, kunci untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat ada pada waktu pagi. Siapa yang mampu memanfaatkannya, insyaAlloh ia akan keluar dengan percaya diri dengan penuh kesuksesan dunia dan akhirat. Sedangkan siapa yang melewatkannya, berarti ia telah melewatkan sebuah kesempatan emas. Dan di dunia dan akhirat nanti akan mengalami kerugian.

Wallohu a’lam bish Showwab.
Read Post | comments

Tanda Tanda Kiamat Sudah Menghampiri ! Hati Hati

Thursday, November 17, 2011

Iman kepada hari kiamat merupakan unsur pokok keimanan dalam Islam. Tanpa beriman kepada hari kiamat, iman seseorang tidak akan diterima. Sebagaimana tidak diterima apabila tidak beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qadha qadar dariNya.Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “…Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian (kiamat), maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”(An-Nisaa’
:136). 

TANDA - TANDA KIAMAT BESAR.

1 Asap
2 Dajjal
3 Binatang melata di bumi
4 Terbitnya matahari sebelah barat
5 Turunnya Nabi Isa A.S
6 Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
7 Gerhana di timur
8 Gerhana di barat
9 Gerhana di jazirah Arab
10 Keluarnya api dari kota Yamanmenghalau manusia ke tempat pengiringan mereka.

TANDA - TANDA KIAMAT KECIL

Sebelum terjadi kiamat amat besar, maka akan didahului dengan berbagai peritiwa kiamat kecil, diantara sekian banyak kiamat kecil, ada 3 point yang nampaknya belum terwujud, mari kita simak sama-sama;

1. Diutusnya Rasulullah saw
2. Sungai Efrat berubah menjadi emas
3. Baitul Maqdis dikuasai umat Islam

4. Disia-siakannya amanat, jika anda perhatikan, hampir disemua bidang para pemimpinnya tidak amahan, lihat saja salah satu anggota DPR yang asyik nonton film porno di tengah sidang paripurna, bukan hanya tidak amanah tetapi juga bertindak memalukan

5. Penggembala menjadi kaya, aksi tidak sengaja seorang Briptu Norman disebuah situs mengakibatkan dirinya melambung, bukan hanya mendapat banyak tawaran manggung, bahkan dia juga langsung mendapat promosi jabatan, beasiswa, ketenarannya bahkan melebihi pimpinan teratas di korpnya sendiri, bak raja di raja, kemanapun ia pergi selalu ditemani pengawal, yg mana itu adalah tugas dan pekerjaanya sehari-hari 

6. Banyak terjadi pembunuhan, ya, hampir setiap hari terjadi pembunuhan, bukan hanya pembunuhan perorangan bahkan pembunuhan massal, baik yang secara terang-terangan (peperangan) maupun dengan cara tersembunyi (melalui konspirasi)

7. Munculnya kaum Khawarij, sudah anda saksikan beberapa waktu belakangan ini ada banyak orang yang mengaku dirinya manusia super yang bisa menegakkan hukum islam dengan caranya sendiri, kaum ini bersifat sangat tertutup dan mereka hanya berkomunikasi diantara kaumnya saja

8. Banyak polisi dan pembela kezhaliman, Ketika negara sudah tidak mampu lagi mengendalikan kekuatan massa yang sebelumnya didengung-dengungkan melalui slogan demokrasi, maka pemerintah juga akan amat sangat membutuhkan hegemoni kekuatannya kembali untuk mengendalikan kekuatan massa melalui cara memperbanyak jumlah aparat penegak hukum, bukan untuk menjaga keamanan warga tetapi untuk mengawasi dan mengendalikan kekuatan massa yg dikhawatirkan akan mengganggu kestabilan posisi penguasa

10. Dominannya Fitnah, ya, bukan hanya fitnah dalam hubungan antar manusia, bahwa agama islampun sudah menerima banyak fitnah dari saudaranya sendiri dengan mendirikan aliran sebanding atau aliran sesat didukung berbagai media komunikasi dan informasi yang canggih agar fitnah itu menyebar

11. Sedikitnya ilmu, ya, semakin sedikit orang yang mengkaji dan menggunakan Al Quran dan Hasist sebagai landasan ilmu dan pelaksanaannya sehari-hari, kelalaian ini mengakibatkan makin banyak manusia tersesat dan terseret dalam kehancuran akidah dan tauhid

12. Merebaknya perzinahan, ya, baru-baru ini sekelompok anak dibawah umur (usia sekolah) berkumpul dan melakukan tindak asusila bersama-sama (pesta seks)lalu dijaring aparat, perzinahan sudah dianggap hal biasa di masyarakat dan semakin sulit dibendung karena hilangnya norma-norma agama

13. Banyaknya kaum wanita, ya, banyaknya kaum wanita dalam arti semakin banyak kaum wanita yang ikut berkecimpung dalam berbagai bidang kehidupan, bukan hanya dalam hal jumlah, wanita juga ikut menjadi pengambil keputusan penting seumpama Malinda Dee, wanita cantik ini memang pandai tetapi dia menjadi fitnah bagi kaumnya yang lain

14. Bermewah-mewah dalam membangun masjid, bangunan masjid yang dibangun memang banyak tetapi jumlah jemaah yang datang untuk menjalankan shalat wajib lebih sedikit dibanding jumlah kapasitas masjid itu sendiri, jadi sudah terjadi tindak mubazir dalam pembangunan masjid

15. Menyebarnya riba dan harta haram
Belakangan ini marak diberitakan berbagai kasus perbankan yang melibatkan kelompok mafia perbankan dalam aksinya menjerat nasabah melalui skim kredit (kartu kredit dll) yang mengakibatkan kreditur dan debt kolektornya mati sia-sia, inilah dampak dari sistem perbankan kapitalis bermotif riba 

Saat ini kita sedang berada didalam lingkaran berbagai peristiwa kiamat kecil yang pada akhirnya akan menuju kiamat besar. Entah peristiwa apa lagi yang akan terjadi beberapa waktu ke depan, tapi yang pasti kita sudah tidak bisa menghindar lagi, satu-satunya cara adalah banyak-banyaklah kita meminta ampun dan saling menasihati sesama ummat agar kita semua bisa selamat dari semua ujian ini.
Read Post | comments

Gara gara Bermain Farmvile Facebook, Ibu Tega Membunuh Bayinya

Wednesday, November 16, 2011


Satu lagi dampak keranjingan Facebook, seorang ibu muda yang tengah asyik dan saking tidak mau diganggunya saat sedang bermain game di internet, ibu muda di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat ini, membunuh bayinya yang rewel. Alexander Tobias menghabisi nyawa bayinya, yang berusia tiga bulan, dengan cara mengguncangkan badannya berkali-kali.

Menurut laman harian Daily Mail, Tobias akhirnya dinyatakan bersalah oleh pengadilan Florida pada sidang Rabu, 27 Oktober 2010. Berdasarkan bobot pelanggaran yang diatur undang-undang pidana, dia terancam hukuman maksimal seumur hidup. Hakim baru akan membacakan vonis atas terpidana pada Desember mendatang.Ibu berusia 22 tahun itu ditahan sejak Januari 2010 dengan tuduhan pembunuhan tingkat dua. Di depan hakim, Tobias mengakui kesalahannya.

Tobias mengaku perbuatan kejamnya itu berawal dari FarmVille, yaitu salah satu permainan online dari laman jejaring sosial Facebook. Keranjingan pada permainan kompetisi bercocok tanam itu membuat Tobias lupa diri.

Dia mengaku sangat kesal ketika putranya, Dylan Lee Edmondson, terus menangis. Marah dan terganggu dengan tangisan tersebut, dia mengangkat badan Dylan dan mulai menyiksanya. Setelah mengguncang badan korban sekencang-kencangnya, Tobias lalu berusaha menenangkan diri dengan menghisap sebatang rokok.

Bukannya tenang, Tobias yang telah kalut, kembali mengguncang-guncangkan bayinya hingga tewas. Dia mengatakan mungkin kepala Dylan terantuk tembok saat diguncang-guncangkan.

FarmVille adalah permainan selingan paling populer di Facebook dengan 62 juta pengguna aktif dan lebih dari 24,6 juta penggemar pada fans page. Berkat popularitas permainan itu, perusahaan Zynga sebagai pengembang mengantongi US$5,61 miliar.

Namun, muncul beberapa terkait kelalaian orang tua yang asyik bermain komputer. Pada saat seperti ini anak-anak yang tinggal bersama pemain rentan menjadi korban.

Awal tahun ini, sepasang suami-istri di Korea Selatan membiarkan anak mereka mati kelaparan. Saat itu mereka sibuk dengan permainan membesarkan bayi virtual di internet.

Pada September, seorang Ibu di AS dilarang oleh pengadilan untuk menggunakan komputer lagi setelah dia terbukti mengabaikan anak-anaknya serta anjingnya hingga kelaparan karena keranjingan game.
Read Post | comments

Orang Beragama Cenderung Lebih Bahagia

Saturday, November 12, 2011


Kedekatan manusia dengan Tuhannya ternyata membawa banyak keuntungan di dunia. Termasuk menjadikan hidup terasa lebih bahagia.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Illinois, Amerika Serikat, menemukan orang yang beragama akan menjalani hidup dengan bahagia, Kamis (18/08/2011).

Penelitian ini berdasarkan data dari orang-orang di 150 negara yang berbicara tentang agama, kepuasan hidup, dan dukungan sosial. 
Hasilnya, ketika menghadapi konflik atau situasi sulit, orang-orang yang religius lebih mampu bertahan dan merasa bahagia dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki agama.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa agama memberikan dukungan emosional ketika kebutuhan dasar seperti makanan, pekerjaan, keamanan, dan pendidikan tidak terpenuhi. Orang beragama cenderung merasa lebih dihargai dan memiliki sedikit perasaan negatif daripada orang yang atheis.*
Read Post | comments

Kajian, Satu Tuhan, Satu Agama!

Friday, November 11, 2011

“Satu Tuhan, Satu Agama!” Judul Berikut adalah Ulasan Dari Bapak DR. Adian Husaini Untuk Mengkaji Sebuah Buku Sesat Yang Beredar di masyarakat.


Oleh: DR. Adian Husaini 

Dalam beberapa hari belakangan, ada sejumlah SMS yang masuk ke HP saya. Isinya, meminta saya mengkaji sebuah buku berjudul Satu Tuhan Banyak Agama, Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili, (Mizan, 2011). Rabu (19/10/2011), saya baru sempat mencari buku ini di sebuah toko buku.

Setelah membaca dengan seksama, saya segera berusaha memberikan sejumlah ulasan berikut ini.


Dari segi penampilan luar, buku karya Dr. Media Zainul Bahri (dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta) tampak berwibawa, dengan tebal 500 halaman lebih. Ada pengantar dari Rektor UIN Jakarta, Prof. Komaruddin Hidayat dan juga pujian dari Prof. Kautsar Azhari Noer, guru besar Perbandingan Agama, UIN Jakarta. Dengan tampilan semacam itu, wajar jika orang menyangka bahwa buku ini berbobot ilmiah yang tinggi. Apalagi, ini juga disertasi doktor di UIN Jakarta.

Tentu, usaha penulis buku ini dalam mengkaji pemikiran-pemikiran tiga tokoh sufi tersebut perlu diberikan apresiasi. Harapannya, ke depan, makin terbuka kajian-kajian semacam ini yang lebih serius dan lebih Islami. Akan tetapi, sebagai karya terbuka, tentu buku ini wajib dikaji secara kritis. Berikut ini catatan kritis untuk buku ini:

Pertama, buku ini mengambil konsep Pluralisme, Perenialisme dan Kesatuan Transendensi Agama-agama/KTAA (Transcendent Unity of Religions) sebagai dasar analisis. Pemikiran tiga tokoh sufi dianalisis dari konsep ini. Tidak ada catatan kritis apa pun terhadap konsep KTAA tersebut.

Penulis buku ini sudah meyakini kebenaran konsep tersebut dan kemudian berusaha mencari legitimasi pada karya-karya klasik dan kontemporer dari para ulama dan sarjana Muslim klasik dan kontemporer.

Padahal, jika ditelaah sepintas saja, kita akan menjumpai berbagai paradoks dan kerancuan dalam pemikiran-pemikiran yang disajikan. Sebagai contoh, tertulis: “Dalam diskursus pluralisme agama, penjelasan tentang transendensi Ilahi ini dan bahwa setiap agama lahir dan terikat pada konteks tertentu menjadi argumen bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi/sempurna atas yang lain. Semua bentuk-bentuk agama adalah sederajat, karena semuanya sedang mewadahi ke-Mahabenaran dan ke-Mahamutlakan Tuhan.” (hal. 21).

Itulah salah satu keganjilan pemikiran pluralisme agama. Mereka menolak “klaim kebenaran” dari masing-masing pemeluk agama, tetapi pada saat yang sama mereka justru menolak keberagaman. Mereka memaksa semua pemeluk agama melepaskan klaim kebenarannya masing-masing lalu dipaksa berpindah menuju satu keyakinan, bahwa “semuanya benar”, sebagaimana paham kaum pluralis tersebut. Bukankah ini satu sikap yang paradoks dan justru anti-pluralisme!

Simaklah, betapa paradoks dan absurdnya logika penganut pluralisme ini! Di dalam buku ini, dikatakan: “Semua jalan-jalan itu menuju kepada puncak yang sama. Ibarat ribuan bahkan jutaan aliran air sungai dan anak sungai semuanya mengalir dan sedang meluncur ke samudera yang sama.” (hal. 379).

Logikanya, jika ia mengakui kebenaran semua agama, aliran, atau paham, seharusnya dia juga mengakui kebenaran paham para penganut agama yang meyakini kebenaran agamanya sendiri (bersikap eksklusif). Tetapi, anehnya, kita banyak menjumpai berbagai kecaman terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran pluralisme. Dikutip, misalnya, pendapat Paul F. Knitter, bahwa kita tidak dapat mengatakan agama yang satu lebih baik dari yang lain. Semua agama adalah relatif, terbatas, parsial, tidak lengkap, satu cara melihat sesuatu. Saat ini, menganggap bahwa satu agama pada dirinya lebih baik dari agama lain adalah sebuah pandangan keliru, ofensif, dan berpandangan sempit. (hal. 379-380).

Kita balik bertanya, jika orang hanya mengakui paham Pluralisme saja yang benar, dan menyerang paham yang berbeda dengannya, bukankah orang itu juga berpandangan sempit? Seorang “pluralis sejati”, seharusnya bersikap permisif terhadap semua paham dan agama, karena semuanya dianggap benar! Terbuktilah, logika kaum pluralis ini memang mau menang sendiri dan asal-asalan: merasa benar sendiri dengan pendapatnya, tetapi menyalahkan umat beragama yang meyakini kebenaran agamanya sendiri!

Kedua, dalam buku ini tidak didefinisikan apa yang disebut “agama” dan apa batasannya? Misalnya, ditulis: “Dengan kata lain, semua agama adalah sama, dalam arti sama-sama mengandung kebenaran yang terbatas. Tidak ada yang lebih baik atau lebih sempurna antara satu dengan yang lain. Tuhan Yang Mahabenar secara mutlak – meminjam ungkapan Schuon – tidak mungkin kebenaran-Nya secara sempurna dikandung hanya oleh satu agama atau berapa agama, bahkan jutaan agama sekali pun.” (hal. 380).

Mari kita uji logika Doktor lulusan UIN Jakarta ini. Ia tentu paham bahwa jumlah agama di dunia ini adalah ribuan. Ambillah satu contoh agama bernama Bhairawatantra yang hidup di Indonesia sebelum kedatangan Islam. Bhairawatantra memiliki ajaran, bahwa manusia hendaknya jangan menahan hawa nafsu, bahkan sebaiknya manusia itu memperturutkan hawa nafsu. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. (Dr. Prijohutomo. Sedjarah Kebudajaan Indonesia I: Bangsa Hindu. (J.B. Wolter, Jakarta-Groningen, 1953). Hal. 89). Salah satu bentuk ritual yang paling esoterik, adalah pemujaan yang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. (Paul Michel Munoz. Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia. Terjemahan. (Mitra Abadi, Yogyakarta, 2006). Hal. 253 dan 448). (Lihat lebih jauh tentang aliran ini di Jurnal Islamia-Republika, Kamis 20 Oktober 2011).

Apakah agama Bhairawatantra yang mengajarkan ritual seks bebas dan penyembelihan manusia ini sama derajatnya dengan agama Islam?

Di era modern ini, masih banyak dijumpai agama yang mengajarkan agar pemimpin dan jemaatnya semuanya bertelanjang bulat saat melakukan ritual. Ada juga agama pemuja setan. Maka, bisa juga ditanyakan, saat menulis bukunya ini, si dosen Ushuluddin UIN Jakarta tersebut sedang memeluk dan meyakini agama apa? Sulit dibayangkan, jika logika si dosen ini suatu ketika dipungut oleh para pelacur, sehingga mereka berlogika, bahwa praktik prostitusi adalah satu bentuk ritual suci kepada Tuhan!

Ketiga, sebagaimana kebiasaan kaum yang mengaku pluralis agama, penulis buku ini juga mengutip sejumlah ayat dari Kitab suatu agama menuruti pemahamannya sendiri, yang berbeda dengan pemahaman para pemeluk agama tersebut. Sebagai contoh, ia menulis: “Di antara agama-agama dunia, Hinduisme dan Bahaisme adalah dua agama yang secara eksplisit mengapresiasi pluralisme agama, dalam arti mengakui jalan-jalan keselamatan pada agama-agama lain, Bhagawatgita, salah satu kitab suci Hindu, memuat dua sloka popular yang selalu menjadi rujukan bagi pluralisme. Sloka itu berbunyi:

“Jalan mana pun ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Kuterima. Wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku pada semua jalan.” (hal. 381).

Benarkah agama Hindu kondisinya seperti itu? Ternyata, ungkapan itu hanya khayalan penulis saja! Tahun 2006, terbit sebuah buku berjudul Semua Agama Tidak Sama. Editor buku ini, Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan judul “Mengapa Takut Perbedaan?” Ngakan mengkritik pandangan yang menyamakan semua agama, termasuk yang dipromosikan oleh sebagian kaum Pluralis yang suka mengutip Bagawadgita IV:11: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”

Padahal, jelas Ngakan: “Yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Semua yoga ini ada dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan, bukan hanya satu – bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya.” (Lihat, Ngakan Made Madrasuta (ed), Semua Agama Tidak Sama, (Media Hindu, 2006) hal. xxx.)

Bahkan, majalah MEDIA HINDU, edisi Oktober 2011, menurunkan laporan utama berjudul “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit” dengan menyimpulkan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara dan mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi Negara maju.”

Itulah agama Hindu yang ditulis oleh orang Hindu sendiri!

Sebagaimana sejumlah penganut paham pluralis, dosen Ushuluddin UIN Jakarta ini pun mencoba mencari legitimasi pemikirannya dengan mengutip pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, yang – katanya – berpendapat, bahwa tidak ada persyaratan bagi orang Yahudi, Nasrani, dan Sabean untuk beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, karena masing-masing umat memiliki wahyu dan nabi yang khusus, unik dan berbeda satu sama lain. (hal. 382-383).

Jika si penulis buku tersebut mau meneliti dengan sungguh-sungguh dan jujur pendapat Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, tentu dia tidak akan berani menulis semacam itu. Dalam Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan Ahlul Kitab, disebutkan, bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka dakwah Nabi (Islam) tidak sampai menurut yang sebenarnya dan kebenaran agama tidak tampak bagi mereka. Karena itu, mereka diperlakukan seperti Ahlul Kitab yang hidup sebelum kedatangan Nabi.

Sedangkan bagi Ahli Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199), Abduh dan Ridha menetapkan lima syarat keselamatan, yaitu: (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka mengatakan bahwa syarat ini disebutkan lebih dahulu daripada tiga syarat yang lainnya, karena al-Quran merupakan landasan untuk berbuat dan menjadi pemberi koreksi serta kata putus ketika terjadi perbedaan. Hal ini lantaran kitab itu terjamin keutuhannya, tidak ada yang hilang dan tidak mengalami pengubahan, (3) beriman kepada kitab-kitab yang diwahyukan bagi mereka, (4) rendah hati (khusyu') yang merupakan buah dari iman yang benar dan membantu untuk melakukan perbuatan yang dituntut oleh iman, (5) tidak menjual ayat-ayat Allah dengan apapun dari kesenangan dunia. (Lebih jauh tentang keselamatan Ahli Kitab, kekafiran dan kemusyrikannya, lihat, Dr. Hamim Ilyas, Dan Ahli Kitab Pun Masuk Surga: Pandangan Muslim Modernis Terhadap Keselamatan Non-Muslim, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2005), hal. 71-99).

Jadi, di sini tampak jelas kekeliruan si penulis. Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh sama sekali tidak berpendapat seperti yang ditulis oleh penulis buku ini. Secara ilmiah, cara-cara seperti ini tidak patut dilakukan, apalagi oleh seorang dosen Ushuluddin.

Keempat, penulis buku menyimpulkan bahwa dia telah mematahkan argumentasi dari para sarjana ISTAC, seperti Sani Badron, Syamsuddin Arif dan Anis Malik Thoha. (hal. 2). Sayangnya, penulis tidak mengkaji karya-karya para sarjana tersebut dengan mendalam dan cermat. Penulis hanya mengutip artikel Sani Badron di Majalah Islamia, Vol. 1, no. 3 (2004) yang berjudul “Ibn al-Arabi Tentang Pluralisme Agama.” Padahal, Dr Mohd. Sani bin Badron telah menulis Tesis yang serius berjudul “Ibn al-Arabi’s Conception of Religion.” Tesis Sani bin Badron ini tidak ditemukan dalam daftar referensi buku ini.

Di akhir kesimpulan Tesisnya, Sani bin Badron mengkritik cara berpikir kaum Transendentalis yang memaksakan posisi teologis Ibn Arabi ke dalam pola pikir mereka: “Then only may we see clearly – at least in the case of Ibn al-‘Arabi – how far the Trancendentalists have been right or have been deviated by their own belief.”

Dr. Syamsuddin Arif juga sudah melakukan kajian serius tentang konsep agama-agama Ibn Arabi yang mengkritik cara-cara kaum Transendentalis dalam membaca karya Ibn Arabi. Berikut ini petikan sebuah artikel Dr. Syamsuddin Arif berjudul “Pluralisme” dan Manipulasi Orientalis.” Oleh kaum Pluralis, Ibn Arabi ‘dijadikan bemper’ untuk melegitimasi asumsi para penganut ‘agama perennial’ (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran transenden, semua agama adalah sama, karena semuanya sama benarnya, sama sumbernya (Tuhan), dan sama misinya (pesan moral, perdamaian, dsb). Pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Schuon, S.H. Nasr, W.C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini tampak mendapat banyak pengikut di Indonesia.

Untuk mendukung klaimnya, biasanya ‘kalangan’ ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya, Tarjuman al-Asywaq, yang berbunyi: “Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, Ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; demikianlah agama dan keimananku.”

Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy), SH Nasr menyimpulkan bahwa di sinilah Ibnu Arabi “came to realize that the divinely revealed paths lead to the same summit” (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar, New York: Caravan Books, 1964], hlm.118).

Sebenarnya, Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri, yaitu Dzakha’ir al-A‘laq syarh Tarjuman al-Asywaq (ed. Dr. M.‘Alamuddin asy-Syaqiri, Cairo: Ein for Human and Social Studies, 1995, hlm.245-6).

Di situ dinyatakan bahwa yang ia maksudkan dengan ‘agama cinta’ adalah agama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran 3 (Ali Imran):31, “Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku! --niscaya Allah akan mencintai kalian.”

Dalam kitab Futuhat-nya (bab 178, fi Maqam al-Mahabbah), Ibn Arabi menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syari‘at dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam (al-ittiba‘ li-rasulihi saw fima syara‘a). Jadi, ‘agama cinta’ yang dimaksud Ibn Arabi adalah Islam, yaitu agama syari‘at dan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan bukan ‘la religion du coeur’ versi Schuon dan para pengikutnya itu. Menurut Ibn Arabi, semua agama dan kitab suci terdahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah masing-masing -- yakni sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam muncul. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman. Validitas itu tidak berlanjut setelah kedatangan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. “Nabi Isa pun, seandainya sekarang ini turun, niscaya tidak akan mengimami kita, kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad], dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari‘at kita.” (Wa hadza ‘Isa idza nazala ma ya’ummuna illa minna, ay bi sunnatina, wa la yahkumu fina illa bi syar‘ina),” tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat, bab 36).

Sikap Ibn Arabi tentang konsep mukmin-kafir juga jelas. Orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni agama mereka memang mengharuskan beriman mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. (Futuhat, bab 495, fi Ma‘rifati hal quthb kana manziluhu “wa man yartadid minkum ‘an dinihi fayamut wa huwa kafir”).

Demikian hasil kajian Dr. Syamsuddin Arif tentang konsep agama Ibn Arabi yang berbeda dengan cara pandang penulis buku ini, yang sudah beriman secara bulat-bulat kepada teori Transendentalisme Fritjoph Schuon. Pembaca bisa membandingkan hasil kajian Sani bin Badron dan Dr Syamsuddin Arif dengan kajian penulis disertasi ini.

Kelima, kesalahan fatal penulis buku ini adalah menjiplak mentah-mentah dan mengimani tanpa kritis sosok dan pemikiran KTAA, yaitu Fritjoph Schuon. Padahal, banyak sekali kritik terhadap pemikiran Schuon dan praktik ritual tarekat Maryamiyya yang dibentuknya. Salah satu kritik tajam disampaikan oleh Mark Sedwigk melalui bukunya Againts the Modern World. Sedwigk memaparkan beberapa penyimpangan yang dilakukan oleh Schuon maupun tarekat Maryammiyah. (Mark Sedgwick, Against the Modern World; Traditionalism and the Secret Intellectual History of Twentieth Century, Oxford University Press, 2004).

Mark Sedgwick menulis, bahwa Schuon sangat permisif dalam soal pelaksanaan syariat Islam. “He believed that esoteric practice was what really mattered and that its esoteric framework was less important.” (Ibid, hal. 124). Schuon memiliki hobi melukis. Ia juga tak segan-segan membuat lukisan telanjang, sebagai simbol esoterisme. (Ibid, hal. 148).

Setelah mengaku “bertemu” dengan Bunda Maria (Virgin Mary), Schuon juga membuat lukisan yang terkadang menggambarkan Bunda Maria dalam keadaan telanjang bulat atau telanjang sebagian yang mempertontonkan payudaranya. Katanya, itu sebagai simbol untuk mengungkapkan kebenaran dan membebaskan kasih sayang. (to the unveiling of truth in the sense of gnosis and to liberating mercy.” (Ibid, hal 151). Tahun 1965, Schuon menikah lagi. Uniknya, kali ini ia menikahi salah satu muridnya sendiri, tanpa perlu bercerai dengan suaminya terdahulu. Perkawinan ini dijuluki sebagai “perkawinan vertikal” atau “perkawinan spiritual”. (Ibid, hal. 152-153).

Penutup. Sebenarnya, teori KTAA, bahwa semua agama menuju Tuhan yang sama, atau ibaratnya, semua sungai akan mengalir ke Laut yang sama, adalah sebuah teori fabrikasi dan khayalan belaka. Faktanya, tidak semua sungai mengalir ke laut. Ada sungai yang kering duluan. Faktanya juga, tidak semua sungai airnya jernih. Ada sungai yang airnya keruh, bahkan ada yang busuk dan beracun.

Faktanya, saat ini, ada agama yang mengajarkan bahwa zina adalah perbuatan bejat, tetapi ada juga agama yang mengajarkan praktik seks bebas! Ada agama yang mengharamkan babi. Tetapi ada juga yang menghalalkannya. Ada agama yang mewajibkan khitan. Tapi ada juga yang melarang khitan! Ada agama yang melarang kawin sejenis (homo/lesbi). Ada juga agama yang membolehkan kawin sejenis. Orang yang sehat akalnya pasti menyatakan, tidak mungkin semua ajaran itu sama-sama benar dan berasal dari Tuhan yang sama!

Adalah sebuah khayalan belaka, bahwa agama-agama akan bertemu pada level esoterik/transenden. Ingatlah, bahwa Iblis pernah berdialog dengan Allah di level itu. Faktanya, dia tetap Iblis dan kafir. Jadi, di level transenden pun ada Iblis yang kafir. 
Teori KTAA juga menafikan bahwa Tuhan Yang Satu itu sudah mengenalkan diri-Nya melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Terakhir, yakni Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Nama-Nya pun sudah disebutkan. Jadi, manusia tidak perlu mengarang nama Tuhan Yang Satu itu. Kalau ada orang menyebut Tuhan Yang Satu itu dengan nama “Setan Gundul” – menurut seorang Muslim – nama itu harus ditolak. Tapi, menurut penganut KTAA, nama apa pun untuk Tuhan, sah-sah saja! Kata mereka, yang penting Tuhan.

Lalu, juga sebuah khayalan dari pengikut paham KTAA, bahwa aspek esoterik (batin) lebih penting dari aspek eksoterik (aspek syariah). Seorang Muslim -- yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah – pasti meyakini bahwa salah satu tugas penting dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah mengajarkan bagaimana cara menyembah Tuhan Yang Satu itu! Itu aspek syariat. Tanpa panduan dan contoh dari Nabi, manusia pasti akan menyembah Tuhan sesuai dengan imajinasi dan kreativitasnya masing-masing! Jika semuanya dikatakan sah dan benar, lalu untuk apa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam diutus? Yang bisa dinilai dari suatu agama adalah justru aspek eksoterisnya. Sedangkan aspek esoterik adalah sesuatu yang abstrak, yang dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dari aspek syariat. Jika konsep eksoteris direlatifkan dan dibebaskan dalam bentuk apa pun, itu sama saja dengan merusak agama itu sendiri.

Jika kita renungkan, yang logis bukan konsep “Satu Tuhan, Banyak Agama”, tetapi yang benar adalah “Satu Tuhan, Satu Agama!” Sebagai Muslim, sesuai penjelasan ayat-ayat al-Quran, misalnya QS 16:36, 3:19, 85, saya memahami, bahwa Tuhan itu SATU, dan Tuhan yang SATU itu hanya menurunkan SATU agama kepada para Nabi-Nya, yaitu agama Tauhid. Selama tidak mengajarkan TAUHID – yakni mengakui dan tunduk kepada Allah, sebagai SATU-SATU-nya Tuhan – maka jelas itu bukan agama dari Allah, dan bukan agamanya para Nabi; bukan pula agama wahyu (revealed religion), melainkan agama budaya (cultural religion). Agama Tauhid menuhankan Allah, sebagai satu-satunya Tuhan; bukan menuhankan Iblis.

Dan untuk mengenal Allah – bukan Genderuwo atau Setan Gundhul – mutlak perlu beriman kepada kenabian Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Karena itulah, saya membaca syahadat: Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, Tuhan saya jelas, yaitu Allah! Bukan asal Tuhan, atau Tuhan asal--asalan. Itu karena posisi saya sudah jelas, yaitu saya Muslim, saya sudah memilih Islam. Saya bukan Kristen, saya bukan Yahudi, saya bukan Hindu, atau penganut paham kebenaran semua agama. Itu keyakinan saya, dan saya sangat menghormati keyakinan yang berbeda dengan saya, meskipun saya tidak membenarkannya. Saya tidak boleh memaksa orang lain mengikuti pendapat saya. Itulah makna toleransi dan mutual understanding.

Jadi, sejatinya, teori Kesatuan Transendensi Agama-agama (KTAA) adalah teori yang absurd (senseless). KTAA bukannya memperkuat basis ushuluddin (dasar-dasar agama) seorang Muslim, tetapi justru mengajak Muslim untuk menjadi “uculuddin” (bahasa Jawa: lepas agamanya). Padahal, penulis buku ini adalah dosen di Fakultas Ushuluddin, bukan Fakultas “Uculuddin”! Wallahu a’lam.*/ Depok, 20 Oktober 2011

Sumber: hidayatullah.com

Gerakan Yahudi, Terbongkarnya Kedok Yahudi di Jakarta

Teka-teki itu terjawab. Selama ini menjadi sangat sulit memahami. Kemana arah gerakan yang mengusung ideologi plurasime? Para penganut ideologi pluralisme itu mula-mula hanya menginginkan kebebasan beragama. Mereka menuntut setiap paham agama itu, diberi ruang hidup secara bebas di Indonesia. Tidak ada restriksi atau pembatasan. Termasuk adanya undang-undang yang mengatur keberadaan agama di Indonesia.

Gerakan yang mendapatkan dukungan media massa, lembaga swadaya internsional, dan pemerintahan Barat, berusaha dengan sangat gigih, memperjuangkan paham pluralisme di Indonesia. Mereka menggunakan segala kemampuan dan kekuataan yang mereka miliki, agar paham pluralisme itu eksis, dan kemudian mereduksi agama mayoritas di Indoensia, yaitu Islam.

Makanya, mereka berlindung dibalik baju pemerintah yang sekarang sedang getol-getolnya memerangi "terorisme". Mereka - penganut pluralisme sekarang meniupkan dengan sangat keras tentang ancaman radikalisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme. Kaum pluralis dengan menggunakan media yang ada, terus melakukan kampanye tentang ide-ide kotor, yang ingin mereduksi secara total nilai-nilai Islam dalam kehidupan kaum Muslimin.

Tetapi, sekarang semua menjadi sangat terang benderang, para pengusung gerakan pluralisme itu, hanyalah alat, dan menjadi "brokers", yang tujuannya hanyalah untuk melegalkan agama dan komunitas Yahudi di Indonesia. Mereka menginginkan agar pemerintah melegalkan agama dan komunitas Yahudi Indonesia. Di mana selama ini, aktivitas mereka tertutup, dan selalu menggunakan berbagai "cover" untuk menutupi gerakan mereka.

Gerakan Yahudi, Terbongkarnya Kedok Yahudi di Jakarta

Gerakan pluralisme yang menginginkan pemerintah memberikan pengakuan dan hak yang sama setiap agama, hanyalah "prolog" (mukaddimah) dari gerakan yang lebih besar, yang tujuannya ingin menjadikan agama Yahudi dan para pengikutnya di Indonesia menjadi legal. Dengan semakin mencairnya sikap umat Islam terhadap berbagai ideologi dan agama, maka itu menjadi peluang akan legalisasi terhadap agama Yahudi dan para pendukungnya di Indonesia.

Gerakan pluralisme itu, sudah menyusup ke seluruh Ormas Islam, dan ada tokohnya, yang memperjuangkan secara permanen dan terus menerus paham dan ideologi pluralisme itu. Gerakan ini mendapatkan angin saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden, dan dilanjutkan oleh "Wahid Institute", yang terus menggelorakan tentang pluralisme di Indonesia.

Esensi gerakan pluralisme itu, bukan hanya ingin mereduksi agama Islam, tetapi gerakan ini juga ingin menjadikan agama Yahudi sebagai "centrum" (pusat) dari semua agama, karena pandangan agama Yahudi, yang sangat rasis. Dengan menelanjangi agama Islam, dan dengan ide-ide semua agama sama, kebebasan agama, dan toleransi agama, maka dititik inilah masuk agama Yahudi dan para pengikutnya, dan kemudian melakukan kooptasi terhadap semua agama dan ideologi yang ada di Indonesia.

Sekarang langkah-langkah deterent dan deideologisasi, khususnya terhadap paham agama, khususnya Islam, karena Islam akan menjadi batu sandungan bagi masuknya agama Yahudi di Indonesia. Mereka menggunakan 'trik-trik' politik, yang akan membuat kalangan pemeluk Islam kehilangan sikap "sajaah" (keberanian) untuk menyatakan dirinya sebagai Muslim. "Isyhadu bi anna muslimin" mereka lucuti dengan sederet  isu yang sengaja mereka semburkan. Teroris, ekstrimis, fundamentalis, dan radikal. Dengan gempuran yang mereka lakukan melalui media itu, mentalistas umat Islam menjadi ciut nyalinya, dan kemudian mereka melenggang untuk mendirikan agama Yahudi di Indonesia.

Sabtu depan, 14 Mei, 2011, rencananya akan berlangsung peringatan ulang tahun atau peringatan hari kemerdekaan Israel di Jakarta. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana ini bisa berlangsung di negeri yang mayoritas penduduk beragama Islam?

Sementara itu, Israel berdiri menjadi sebuah negara, tak lain melalui pengusiran, penghancuran, dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina. Berulang kali terjadi pembantaian terhadap rakyat Palestina. Jumlahnya tidak sedikit. Mereka yang tewas dibunuh milisi Yahudi di Palestina. Jutaan orang yang diusir ke negara-negara lain, dan tanah kelahiran mereka dirampas. Kemudian, diduduki dan dijadikan negara yang bernama Israel. Terakhir umat Islam disuguhi Israel sebuah episode tragedi kemanusiaan yang tiada taranya, yaitu berlangsungya genoside terhadap muslim Palestina Gaza, saat invasi militer Israel terhadap Gaza, bulan Januari 2010.

Hari-hari ini, rakyat Mesir, Jordania, Suriah, dan Arab lainnya, sedang mempersiapkan peringatan "Nakba", peringatan yang memperingati pengusiran dan pembantaian yang dilakukan Yahudi di Palestina. Israel juga secara sistematis berusaha menghancurkan Masjidil Aqsha, dan menggali torowongan di bawahnya. Kejahatan yang dilakukan Israel tidak akan pernah berhenti terhadap rakyat Palestina. Kejahatan yang tiada taranya, yang hanya bisa disamai oleh Hitler.

Selama ini, kaum Muslimin hanya menjadi objek dan tertuduh sebagai teroris, fundamentalis, ekstrimis, pelaku kekerasan. Tetapi, kenyataannya umat Islam yang selalu menjadi korban kaum rasis Yahudi-Israel. Mereka terus berkampanye bahwa umat Islam itu selalu diidentikkan dengan pelaku kekerasan. Tetapi, sejatinya sejak dahulu kala, sampai yang paling banyak membunuh ummat Islam adalah kaum Yahudi dan Nasrani.

Mengapa umat Islam berdiam diri membiarkan dirinya terus menerus didzalimi secara kejam oleh mereka yang selalu meneriakkan pluralisme, kebebasan beragama, toleransi agama, inklusivisme. Mereka itu sejatinya gerakan yang haus darah umat Islam. Di mana saja mereka menumpahkan darah umat Islam dengan menggunakan tangan orang lain. Tak layak orang beradab memperingati kemerdekaan Israel. Wallahu'alam. 
Read Post | comments
 
© Copyright Panitia Hari Kiamat 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.